Bahasa dan Sastra Jawa Budaya Adiluhung Yang Harus Dilestarikan


hasil kesepkatan pasca konggres bahasa jawa para gubernur tanda tangani kesepakatan

Jogja media hobi majalahburungpas.com, warta daerah ini bukan kabar burung tetapi kabar tentang Perhelatan Kongres Bahasa Jawa  ( KBJ) VI yang  telah usai.

Konggres bhasa jawa yang baru saja di helat sejumlah pekerjaan harus tetap dilaksanakan mengingat pada kongres-kongres sebelumnya pasca kongres kurang greget dalam merealisasikan sehingga hasil kongres tidak menyentuh masyarakat.

Kongres Bahasa Jawa (KBJ) VII yang dilaksanakan di hotel Inna Garuda Yogyakarta pada 8-12 November berhasilkan menelorkan beberapa keputusan dan rekomendasi. Di mana keputusan tersebut antara lain bahas jawa layak dan perlu terus dikembangkan serta dilestarikan, baik melalu lembaga formal maupun non formal, seperti komunitas yang sudah terbiasa melakukan kegiatan kejawaan.

Keputusan lainnya yang diambil adalah setiap usaha pelestarian layak dan perlu difasilitasi anggaran oleh instansi terkait. Selain perlu ada peraturan gubernur guna menjamin usaha pelestarian ini memiliki kekuatan hokum dan pelaksana keputusan kongres layak dilengkapi dengan personil-personil pelaksana.

Ketua Panitya KBJ VII, Nursatwiko mengatakan keputusan terpenting dalam KBJ VI adalah akan dibentuknya lembaga di masing-masing propinsi yang nantinya bertugas mensosialiasikan hasil kongres. Di mana hasil kegiatan ini nantinya juga akan menjadi dasar dalam pelaksanaan kongres berikutnya, kongres ke VII, 2021 di Jawa Tengah.

“Ke tiga propinsi nantinya akan di bentuk lembaga di bawah naungan masing-masing SKPD. Untuk DIY lembaga ini akan diampu oleh Dinas Kebudayaan, dalam hal ini Bidang Bahasa, Sastra dan Sejarah. Sedangkan Jawa Tengah lembaga akan ditangan Biro Mental Spiritual dan Jawa Timur berada di Biro Kesmas” ujar Nursatwiko seusai upacara penutupan kongres.

Nursatwiko menambahkan masing-masing lembaga dari tiga propinsi ini nanti juga dapat melaporkan kegiatannya dan mengontrol antar lembaga. Sehingga dengan adanya tim lintas wilayah akan terjadi sinergi antar propinsi, utama dalam menjalankan amanah kongres KBJ VI. Tidak seperti kongres-kongres sebelumnya, begitu selesai kongres tidak ada tindak lanjutnya.

Lebih jauh dipaparkannya, KBJ VI berhasil membuat rekomendasi antara lain lembaga pemerintahan wajib berbahasa jawa karma  pada hari-hari tertentu untuk membiasakan keluarga dan masyarakat berbahasa jawa. Sedangkan melalui pendidikan formal perlu adanya pembelajaran bahasa jaw yang kreatif, inovatif dan menyenangkan yang diberikan kepada anak didik mulai jenjang PAU hingga pendidikan menengah.

Rekomendasi lainnya, sambungnya, lembaga informal terutama keluarga muda agar membiasakan berbahasa jawa kepada anak, orangtua juga harus mengajarkan bahasa jawa. Sedangkan bagi lembaga informal berbenuk komunitas, perlu dijadikan ‘incubator’ guna melestarikan bahasa dan sastra jawa. Selain itu perlu adanya penyelenggaraan pelatihan bahasa jawa untuk penutur asing dan bahasa jawa perlu dipopulerkan melalui media sosial.

Sementara itu penggagas kongres, Sudaryanto menambahkan bahasa jawa merupakan warisan nenek moyang dimana bahasa jawa memiliki nilai yang sangat tinggi harganya. Dan hingga saat ini ada 850 juta penutur serta bahasa jawa ini menempati peringkat 11 bahasa daerah terbesar di dunia.

“Saya sedikit merasa prihatin generasi muda sekarang banyak teraliri sastra asing. Guna memberikan pemahaman dan kecintaan terhadap bahasa jawa, kini saatnya pendidikan bahasa jawa harus ditingkatkan”harapnya.

Seni Budaya Merupakan Jati Diri

Sementara itu Gubernur Jawa Timur, Soekarwo dalam sambutannya saat pembukaan kongres mengungkapkan seni budaya jawa merupakan jati diri yang harus tetap dijaga kelestariannya.Sebagai budaya yang adiluhung seni dan budaya jawa jangan sampai terkikis oleh budaya global yang akan merusak dan menghilangkan seni dan budaya kita.

“Seni dan budaya daerah merupakan kekayaan yang harus dipertahankan kelestariannya, di mana seni budaya ini juga merupakan asset kearifan local setiap daerah. Oleh karena itu Pemerintah Propinsi Jawa Timur selalu berupaya mengembangkan potensi seni dan budaya ini” imbuh pria yang akrab disapa pakde Karwo ini.

Upaya mengembangkan dan menjaga kelestarian seni budaya local salah satunya setiap peringatan Hari Jadi Propinsi Jawa Timur pada 12 Oktober, selalu menggunakan bahasa jawa.  Selain itu pemerintah Jawa Timur juga telah mengeluarkan Pergub No.94 tahun 2014 tentang pelajaran bahasa jawa yang wajib menjai muatan local dan telah disesuaikan dengan kurikulum 13.

“Dengan muatan local bahasa nantinya akan membentuk dan membangun karakter anak didik yang memiliki kepribadian yang baik. Apalagi dengan adanya dukungan dari seluruh pemerintah kabupaten/kota, yang mana materi bahasa jawa diberikan dari SD-SMA, tentunya aka berdampak pada kepribadian anak. Yang mana kami juga memberikan dan pembinaan bagi guru-guru bahasa jawa seluruh Jawa Timur” sebutnya.

Soekarwo juga mengatakan paska kongres ke V, pemerintah Jawa Timur juga selalu memberikan penghargaan berupa Anugrah Seni, kepada seluruh pelaku pelestari, pengembang, penerjamah, Pembina, pelindung dan pengguna bahasa jawa. Dengan harapan bahasa jawa serta seni dan budaya Jawa Timur akan terjaga kelestarianya.

Sedangkan Gubernur DIY , Sri Sultan HB X menyarankan pembelajaran bahasa jawa harus disesuaikan dengan tingkatan atau jenjang pendidikan. Mengingat selama terkesan pelajaran yang ada selama ini di semua jenjang terkesan sama.

Sri sultan menambahkan untuk SD pembelajaran bahasajawa mendapat pembelajaran bahasa Jawa dalam kaitannya dengan pembelajaran mendengar dan berbicara. Sedangkan untuk jenjang SMP, pembelajaran bahasa Jawa mendapat pembelajaran parama sastro- menulis. Sementara untuk SMA/K, pembelajaran bahasa jawanya dengan pembelajaran terkait unggah-ungguh, dengan keutamaannya budi pekerti.

Di sisi lain, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam paparan makalah yang berjudul Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam pengoptimalan Bahasa, Pelestarian dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Beserta Dialeknya sebagai Bentuk Kepribadian Bangsa, mengajak masyarakat jangan pernah merasa takut menggunakan bahasa jawa, walaupun dialeknya berbeda.

Karena yang terpenting adalah harus tetap menjaga dan menggunakan bahasanya. Di mana penggunaan bahasa jawa yang benar hal ini tergantung pada penuturnya. Dan penutur bebas menggunakan bahasa jawa tergantung pada dialeknya.Ganjar pun mencontohkan, kata sepuh dapat diucapkan sepah, karena hal ini kembali tergantung dari mana si penutur berasal.

Kongres Bahasa Jawa yang diikuti sekitar 300 peserta, yang berasl dari tiga propinsi, yakni DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur, ke depan diharapkan bahasa dan sastra Jawa terus berkembang, dilestarikan dan disebarluaskan melalui dunia pendidikan baik formal maupun non formal. Selain itu juga melalui lembaga-lembaga pemerintahan maupun komunitas yang bergerak dalam bidang kejawaan. anjar

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi