Acara Kemah di Tleseh Bunder 'Berujung ada Anak Yang Berambut Gimbal dan Keras ?
dok foto ilustrasi, by net/kaskus anak berambut gimbal
Nglipar Media Hobi majalahburungpas.com, warta daerah, Kesurupan aneh tapi nyata mungkin kata-kata ini pantas jadi rujukan hati-hati saat akan memberangkatkan anak sekolah dalam acara kemah di alam terbuka setidaknya melakukan dengan berdoa.
Beberapa orang dan seorang wali murid, ketika melihat kejadian yang tidak sebagaimana mestinya maka dia bisa bilang kesurupan massal. Kejadian itu ketika pihak Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Nglipar ( SMPN 1 Nglipar) Gunungkidul, dari tanggal 26 -28 April 2016, mengadakan kemah di wilayah Kalingga, Tleseh, Bunder Pathuk, Gunungkidul.
Dari peserta kemah 159 anak, hampir separoh kesurupan semua, hal ini diungkapkan salah satu murid yang ikut kegiatan kemah dan dibenarkan oleh orang tua wali yang kebetulan menjenguk anaknya di perkemahan tersebut.
Lt, orang tua wali dari wilayah kecamatan Nglipar ini kebetulan waktu itu mengetahui kejadian kesurupan masal pada saat menjenguk anaknya menuturkan bahwa, ada banyak keanehan yang terjadi pada saat kesurupan itu. Dikatakan, ada yang menari-nari seperti main seni jathil, ada yang menjerit-jerit, menangis, ada yang mengaku Kanjeng Ratu Kidul, bahkan ada yang pinter membaca Alqur’an dan lain-lain.
Bahkan ada yang masuk ke kamar mandi selama 2 jam, begitu keluar sudah dandan rapi rambut disasak dan duduk bak seorang ratu yang duduk disinggasana, kata Lt. “memang aneh tapi nyata, saya juga heran, karena kejadiannya macam-macam, ada yang menjerit-jerit, menangis, ada yang fasih membaca Alqu’an dan ada yang dandan rambut disasak rapi, ada yang mengaku Ratu Kidul, minta ini dan itu,” kata Lt.
Hal itu dibenarkan Bu Nt, orang tua wali dari Pengkol, Nglipar yang kebetulan juga menjenguk anaknya dari jam 19.00 sampai jam 22.00 malam. Bu Nt, mengatakan bahwa kejadian ini diluar dugaan, karena dilihat dari kesiapan para petugas yang kebingungan menghadapi kesurupan yang begitu banyak dan bermacam-macam ulahnya, sehingga didatangkan orang dari luar untuk membantu menangani kesurupan ini.
“saya melihat banyak orang yang dari luar yang ikut menangani, dilihat dari pakaian dan kopyah putih-putih”, kata Bu Lt. Ketika dikonfirmasi berapa jumlah yang kesurupan Bu Lt hanya menjawab, banyak sekali, pungkasnya.
Yd, salah satu peserta laki-laki kelas 8 yang kebetulan tidak kesurupan menuturkan, kalau yang kesurupan hampir separoh peserta kemah, karena kejadianya siang dan malam, bahkan sampai selesai kemah dan sudah kembali ke sekolahanpun masih banyak yang kesurupan.
“ya, banyak sekali yang kesurupan karena siangpun terjadi kesurupan masal, mungkin hampir separoh peserta kesurupan semua”, kata Yd. Hal itu dibenarkan oleh Dn, siswi dari Pengkol, Nglipar, Gunungkidul, yang kebetulan waktu itu dijenguk oleh kedua orang tuanya. Dan sampai saat ini tinggal satu orang yang belum bisa tertangani, Natasya Galitasari murid kelas 8c, warga Kajar 1, kecamatan Wonosari.
Seperti pemberitaan media sebelumnya Natasya Galitasari secara tiba-tiba rambutnya menjadi gimbal dan mengeras tidak bisa disisir. Sementara itu pihak sekolah SMPN 1 Nglipar membantah adanya kejadian kesurupan massal, anak didiknya hanya kecapean dan kelelahan saja dan hal seperti itu sesuatu yang wajar, kata kepala sekolah SMPN 1 Nglipar, Sayogo Supriyono,SPd.
Hal senada juga diungkapkan Irwandi, SPd, sebagai penanggung jawab kegiatan kepramukaan pada saat itu. Lebih lanjut Irwandi mengatakan, sebenarnya hal ini bukan untuk konsumsi public, anak didik yang sakit hanya 4 orang saja, jadi bohong kalau terjadi kesurupan massal, kelitnya.
Ke 4 orang itupun memang menurut Irwandi, karena hanya kelelahan saja, karena factor makanya yang kurang baik, seperti makan mie instan, es dan lain-lain, kata Irwandi. Dan ternyata setelah diteliti orang-orang yang sakit itu memang sudah ada riwayat sakit maag dan sebagainya. “bohong kalau ada kesurupan, kalau ada orang bilang kesurupan, ya silahkan, tetapi kalau menurut sekolah hanya sakit biasa saja, dan setelah di obati kembali sehat”, sanggah Irwandi.
Ketika disinggung Nastasya Galitasari yang sampai saat ini belum masuk karena rambutnya menjadi aneh, pihak sekolah sudah mendatangi rumahnya dan akan dibawa ke rumah sakit atau medis untuk diteliti, supaya bisa diketahui penyakitnya. “kita sudah mendatangi rumahnya Natasya, dan nanti akan dibawa ke medis untuk diteliti, itupun kalalu pihak keluarga menyetujui”, pungkas Irwandi.
Kejadian yang menimpa Natasya Galitasari ini menjadi perhatian ketua DPRD Gunungkidul, Suharno, SE bahkan ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa Natasya Galitasari, yang sampai saat ini belum mau masuk sekolah, karena merasa malu.
Suharno meyambangi rumah Natasya, untuk melihat langsung keadaannya, dan teryata benar adanya, bahwa rambut yang tadinya lurus menjadi gimbal dan mengeras. Ketika dimintai pendapatnya Nastasya akan dibawa ke dunia medis, suharno mengatakan, hal itu kurang pas, karena Nastaya ini terkena gangguan non medis, yaitu bangsa halus.
“kalau mau dibawa ke medis sebenarnya kurang pas saja, karena yang jelas Natasya ini terkena gangguan, ya mungkin sebangsa makluk halus, kalau orang jawa ya pakai “jawane lah”, tetapi ya gak apa2 kalau mau supaya dua-duanya jalan”, pungkas Suharno. WJN
Sharing Berita
Berita Terkait
- Universitas Gudang Masalah 'Ribuan mahasiswa desak rektornya UGM di turunkan
- Putih mulus menyambar-nyambar 'Di dekati manggut manggut apa itu ?
- Kepala sekolah berkelit' dugaan penyimpangan proyek sekolah dasar terus di sorot
- Gendruwo Menyelinap 'Mobil Satpol PP Gunungkidul Masuk Jurang
