Sumber pangan umbi-umbian dapat mensejahterakan rakyat Indonesia.
MENERIMA BUKU
Media Online-majalahburungpas.com, Dua puluh tahun sudah Prof Suhardi bersumpah tidak akan makan yang berbahan baku dan turunannya/sejenis.
Dimana tekad Suhardi tersebut sebagai bentuk “protes terbuka” atas kebijakan pangan nasional karena kerisauan serta rasa kecewaan Pof Dr Ir Suhardi Msc karena Indoenseia sudah terjebak dalam politik pangan yang dikendalikan pelaku bisinis internasional. Dan pelaku bisnis tersebut telah menjajah Indonesia dengan mengimpor gandum.
Menurut Suhardi Indonesia memiliki sumber daya pangan non gandum yang luar biasa, seperti ketela, umbi-umbian serta kacang-kacangan yang memiliki kadar gizi lebih baik dari pada gandum.
Selain itu dengan adanya impor gandum menjadikan masyarakat Indonesia kurang sejahtera. Padahal dengan memanfaatkan sumber pangan yang ada kebutuhan pangan rakyat Indonesia sudah dapat terpenuhi.
Selain itu dengan memanfaatkan sumber pangan seperti umbi-umbian dapat mensejahterakan rakyat Indonesia.
Memperingat 25 tahun Sumpah Gandum tersebut sebuah lembaga independen Joglo Suhardi mengelar penganugrahan kepada Prof Suhardi atas komitmennya yang terus memperjuangkan sumber pangan asli Indonesia.
Selain peringatan 25 tahun Sumpah Gandum, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan lounching Suhardi Institute, yang merupakan organisasi yang concern melaksanakan visi serta pemikiran-pemikran Prof Suhardi.
Sementara itu ketua panitya 25 Tahun Sumpah Gandum, Oni Wantara mengatakan semangat atau spirit dari Suhardi dapat diharapkan dapat mengema ke seluruh Indonesia. Dengan begitu nantinya kita dapat mewujudkan swasembada pangan menuju Indonesia raya yang sejahtera dan bermartabat.
Dalam peringat 25 tahun Sumpah Gandun, selain diisi orasi oleh Suhardi juga disampaikan testimony dari beberapa pelaku bisnis yang melakukan bisnis tetapi dengan mengunakan bahan baku non gandum.
Dan acara ditutup dengan pemberian buku karya Prof Suhardi yang berjuduk Kemandirian Pangan. Buku-buku tersebut diberikan kepada Firmansyah, (pengusaha tela cake), Ir Bugiakso yang telah berhasil mengembangkan kegiatan pertanian melalui demplot-demplotnya, serta Eko Sriyanto, pengusaha muda yang bergerak dalam bidang jasa boga. anjar
Sharing Berita
Berita Terkait
- Gonang Pimpim Kadin DIY
- Suprihono: “Klien Saya Taat Hukum”
- Gubernur DIY mendungkung pendirian koperasi dan home stay
- Embung Geomembran & kebuh buah di resmikan Gubernur DIY
- Forkom sepakati, eks kecamatan Patuk menjadi pintu Info obyek wisata Gunungkidul
- SBY Memimpin di Era Politik Gaduh
- Kredit Macet UKM Korban Gempa DIY 2006 di Hapus Pemerintah
