Jogja nyaris menelan pil pahit, "Sang Prabu simbol perkutut Jogja "


sang Prabu menggondol juara ke tiga dewasa senior (Wachid bertopi putih terima piala)

Redaksi, Majalah burung pas.com Lomba perkutut Hamengku Buwono Cup 23-24 Juli 2011 yang baru saja usai, memberikan secercah harapan baru bangkitnya kung mania Yogyakarta.

Perkutut yang berjuluk Sang Prabu di kelas dewasa senior dalam laga nasional tersebut adalah orbitan peternak Jogja, yang di mekaniki oleh wachiid, jawara ini mampu meraih prestasi di peringkat ketiga.

Di konkurs perkutut tersebut, sebelumnya juga sudah ada yang menyabet prestasi, walaupun di kelas Piyik, dan bergelang Ujang Bf.

Prestasi  yang baru saja mereka raih menjadi cikal bakalnya suara perkutut yang sudah kembali ngandang di Jogja, karena 3 tahun lebih kelas  yang bergensi selalu lepas dari Jogja, dan memang awal lomba perkutut dari Kraton, jadi moment 2011 merupakan sejarah yang fenomental serta istimewa  

Yogyakarta, nyaris di permalukan oleh para pendatang baru dan tetamu yang meluruk dan berburu piara Raja, namun cukup beruntung ada perwakilan yang masuk di papan yang bergengsi, sehingga Jogja tak jadi menelan pil pait, dan rasa malu bisa tersingkirkan, walaupun di akui juga di rasa masih minim.

Kung mania Kota gudek ini, di mata kung mania daerah lain, kadang sering menyandang sebutan “ mau ngundang tapi bila di undang jarang datang” demikian yang sering di lontarkan oleh para pendemen perkutut dari berbagai daerah.

Memang Kung mania Jogja ada alasan sendiri, kenapa jarang ke luar kota, beberapa peternak, mengaku belum memiliki gacok yang pantas, sehingga mereka pada enggan ke luar kota.

Mocernya sang Prabu di prediksi akan menjadi gaung tersendiri, sehingga ini dapat di katakan perkutut  Jogja makin mampu bersaing dengan ring luar DIY.

Nah pemirsa, dan kung mania, apakah di hari hari yang akan datang Jogja tetap akan bisa bersuara, dan kualitasnya makin baik ?   *red * 

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


0){; ?>

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi