Gunung merapi buka kawahnya hingga 500 diameter, bila terjadi erupsi cenderung ke selatan
GUNUNG MERAPI YANG BERKAWAH DAN TERBELAH TERLIHAT DARI SISI SELATAN.
Majalah burung pas.com, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunung apian (BPPTK) Yogyakarta mengingatkan warga di lereng Gunung Merapi agar memahami sejarah erupsi gunung merapi agar dapat menekan jumlah korban jiwa bila terjadi erupsi.
Ia mengatakan, setelah letusan tahun 1930, dan membentuk kawah baru di sisi selatan, lantas pada erupsi 2010 telah membuka kawah dengan diameter 500 meter, kemudian belahan lereng selatan yang dapat kita lihat dan tampak itu sekitar 400 meter.
"Menganganya kawah yang mencapai ratusan meter tersebut, diperkirakan letusan masih cenderung ke arah selatan," ”katanya lagi. Dia kembali mengatakan, berdasarkan pengalaman sejarah, letusan Merapi ini tidak teratur atau susah di prediksi. Namun Merapi dalam catatan sejarah punya masa istirahat erupsi antara 1-18 tahun. Dulu setahun secara runtut di tahun 1997-1998 belahan ke arah barat daya,selanjutnya di tahun 1954-1956 berubah ke utara.
“Nah dengan memahami kondisi dan catatan pengalaman ini, "Ancaman utama Merapi yang berupa awan panas/atau masyarakat menyebut Wedus gembel yang bersuhu kisaran 500-600 san derajat Celcius, yang di iringi gas beracun CO2 yang bisa menimbulkan korban, baik hewan ternak maupun manusia penting di sikapi secara serius " ungkapnya, dalam dialok di Huntara Kuwang dan Plosokerep Cangkringan 5/7 /2011.
Subandrio menambahkan saat erupsi 2010 gunung merapi telah terbelah dan terbentuk kawah yang menghadap ke selatan, dam itu dapat demngan jelas kita lihat, oleh karena itu, Subandrio menegaskan kepada warga saat dialog tersebut, agar dapat mengetahui sejarah letusan merapi yang tidak teratur tersebut, sehingga dapat lebih waspada.
Sebagai catatan pula letusan yang pernah terjadi dan cukup dahsat pada tahun 1930-1931, dan selam 80, mengarah ke barat daya, dengan melihat fenomena seperti ini, warga di lereng merapi perlu bersikap ada upaya menghindari, apalagi dalam melakukan pembangunan pemukiman, perlu mencari lahan yang lebih aman “papar Subandriyo red *
