Dialog budaya, Jogja memang Istimewa


DIALOK KEISTIMEWAAN DIY

Majalahburungpas, Dialog Budaya & Gelar Seni “Yogya Semesta” , YOGYAKARTA MEMANG ISTIMEWA digelar  di Pringgitan Wetan, Pendapa Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta  Selasa 11-01-2011. Tampil sebagai Sumber: Prof. Dr. Suhartono Wiryopranoto, Guru Besar FIB-UGM,  Rama Pastur Dr. G. Budi Subanar, SJ, Pakar Sejarah & Kepala LPPM Universitas “Sanata Dharma”,  Kyai H.M. Jazir ASP, Pemerhati & Peneliti Sejarah Ke Istimewaan Yogyakarta 

Acara  diasuh oleh Hari Dendi  tersebut teryata, mendapat sambutan yang luar biasa. Dalam kesempatan kali ini  secara khusus menggundang  Widihasto Wasana Putra, SFil, Pimpinan Gerakan Rakyat Mataram  sebagai  Moderator.  Gelar  budaya dan seni malam itu diawali dengan tampilnya “Wayang Revolusi”  lakon: ”Yogyakarta Memang Istimewa”, oleh Dalang Ki Catur ‘Benyek’

Suasana semakin hangat dengan jamuan hidangan angkringan  yang disediakan untuk semua peserta, tampak mereka antusias antri dan memelih makanan  atau pesan minuman yang menjadi kesukaanya

Beliau mengatakan diantaranya  “ Peran Sultan & rakyat Jogja yang mendukung dengan sepenuhnya dengan harta  jiwa dan semagat untuk mendukung keberadaan  Yogyakarta sebagai ibukata RI utamanya setelah tanggal 4  Januari 1946,  selain itu Peran Sultan ketika menyampaikan bahwa tahta untuk rakyat ini bentuk pengabdian luar biasa terhadap rakyat , serta bersedia membela dengan konsisten terhadap kemerdekaan Indonesia” .

Guru Besar FIB-UGM itu juga menyampaikan peran Sultan dan Negeri Ngayogjakarta pada saat itu” Kontek umum Yogya saat itu berhubungan atau berdiplomasi  dengan Republik Indonesia, Kerajaan Belandan, PBB, WNO (Negara federal ciptaaan Belanda)  serta Negara yang mendukung atau menentang  Kemerdekaan RI” katannya.

Selain hal itu berapa banyak dana logistik tempat dan berbagai hal yang kraton  sumbangkan untuk Menyokong berdirinya Republik yang masih muda ini” 

Disisi lain Rama Pastur Dr. G. Budi Subanar, SJ, Pakar Sejarah & Kepala LPPM Universitas “Sanata Dharma”,   menyorot  ke-Istimewaaan Yogyakarta dari perspektif pendidikan,  tingkat korupsi yang rendah,  tingkat harapan hidup yang tinggi, selain peran peran diawal kemerdekaan.

Beliau menyapaikan “Sultan dan Kraton dalam mendukung berdirinya beberapa  perguruan tinggi dan sekarang masih eksis dan semakin berkembang seperti  UGM, UII, Taman Siswa, ASRI, Sanata Dharma” 

Sedangkan Kyai H.M. Jazir ASP, Pemerhati & Peneliti Sejarah Ke Istimewaan Yogyakarta, justeru tampil lebih menarik mengemukakan beberpa hal baru yang belum atau jarang diketahui publik.

Tentang  berangkat  Hajinya Ahmad Dahlan atas  fasilitas dari kraton, kemudian bagaimana reaksi Ki Hajar Dewantoro mendengar Khotib sholat Jum’at di Masjid Pakualaman menyampaikan Berita Kemerdekaaan RI. 

Beliau mengemukakan “ Peran Sultan  X semakin memperkokoh Jogja sebagai daerah  yang memiliki jiwa kemerdekaan, Beliau  mampu menangkap getar-getar  keinginan rakyat.

Ketika proklamasi dikumandangkan. Beliau memutuskan bergabung  dalam Negara  kebangsaan  RI, beliau mengambil sikap sama dengan rakyat”. 

Pada tanggal 18 Agustus  1945 Sultan X mengirim ucapan selamat dan langung mendapat  respon yang luar biasa dari Presiden Sukarno  tandasnya”

Kyai H.M. Jazir ASP  mengatakan “ Selain itu  Keistimewaan Jogja salah satunya adalah karena Sistim nilai yg baku, jiwa merdeka yang  demokratis  menyatu antara raja dan rakyat, dan keistimewaan Yogyakarta merupakan kehendak rakyat, beda daerah lain ketika dikasih keistimewan mereka menolak “

Setelah ketiga pembicara  menyampaikan pemaparannya kemudian diselingi lanjutan pergelaran ringkes Wayang Revolusi, baru kemudian dilanjutkan diadakan dialog  dan diakhiri dengan gending “Jogja Tetap Istimewa” yang dinyanyikan bersama oleh seluruh peserta dailog.  (sba)

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi