Potret wong cilik sukses membuka bengkel sepeda ontel
Ilustrasi sepeda ontel Mbah Ngatijo.
Inspirasi sosial muatan majalahburungpas, sore itu langit masih tetap tampak bersih. Di dalam sebuah bengkel sepeda nan sederhana seorang pria berkaos biru dan celana pendek berwarna cokelat kusam tengah sibuk mengotak-atik sepeda. Dia adalah salah satu potret wong cilik bernama Mbah Ngatijo, kegiatannya itu dipertahankan demi sesuap nasi.
Tidak ada keringat di tubuhnya, hanya saja kedua tangannya terbiasa belepotan akibat oli hitam. Pria itu wajahnya tampak serius, namun tatkala di sapa dia langsung berubah, meskipun belepotan oli, ternyata memiliki senyum yang ramah.
Baru sebentar dikorek tentang awal berdirinya bengkel sepedanya itu, sederetan kalimat muncul dari penuturannya dan mengalir secra lancar dari bibirnya.
Puluhan tahun yang lalu, lelaki itu terdorong untuk meneruskan usaha, sebab itu sebagai warisan turun temurunnya. Ketika di samperin kontributor majalah burung pas ini, Pak Mardi, putra dari Mbah Ngatidjo, mengatakan, sejak dulu tak berubah dan hanya seperti ini saja mas, “ungkap Mardi ketika ditanya tentang keadaan bengkel sepeda onthelnya tersebut. Ia menambahkan sejak tiga tahun belakangan ini putra Mbah Ngatidjo memang telah turun tangan, menangani pasien, Sebab usia Mbah Ngatidjo makin sepuh.
TERDENGAR OLEH TELINGA ORANG EROPA
Usaha bengkel sepeda genjot awalnya di rintis sejak 1969, dan gaung bengkel sepeda onthel ini ternyata telah menjalar sampai ke telinga orang Eropa “Kata pak Mardi.
Suatu ketika Pak Mardi kedatangan pengunjung yang berasal dari Kalimantan, Australia, dan Jerman. Niat mereka cuma satu, bertemu langsung dengan pemilik bengkel sekaligus melihat koleksi sepeda klasik itu.
Bengkel sepeda itu memang bisa dikata sebagi bengkel sepeda onthel yang unik, pasalnya di tengah gemerlap modernitas dan peralan cangggih, ternyata usaha bengkel sepeda tersebut justru masih tetap berdiri dan bertahan, namun hanya mengurusi sepeda tua alias kuno yang tidak modern.
Meskipun demikian Tuhan maha adil karena ada saja yang membutuhkannya, selain juga ada yang mencari sepeda sebagai bahan koleksi atau sekedar untuk pajangan dirumahnya “jelas pak Mardi lagi sambil mengusap-usap tangannya yang penuh oli. Meskipun bengkel sepeda genjotnya kurang maju atau staknan, menariknya bengkel warisan itu juga mempekerjakan dua karyawan.
HARGA SEPEDA ONTEL SEJAJAR SEPEDA BEBEK BARU
Di balik kurang populernya usaha yang tampak dari depan, samping, dan belakang, dengan cat temboknya yang telah memudar hampir di tiap sudut ruangan yang kotor dan sempit, serta kurang fasilitas, dan tampak ala kadarnya, serta peralatan yang serba berkarat, jangan heran
Bila tempat itu anda bisa menemukan sepeda yang harganya melebihi harga sebuah sepeda bebek keluaran terbaru. Gazelle made in holland, itulah nama yang tertempel di bawah jok sepeda seharga 15 juta itu. Usia yang lebih dari setengah abad, kondisi yang masih baik dan orisinal telah mengantarkan sepeda itu ke angka 15 juta.
Harga yang fantastis bukan? Masih ada merk lainnya dengan harga yang masih terjangkau, sebut saja Simplex yang berasal dari tahun 1915, Relight dari tahun 1954, The Humberg, bahkan yang sepeda yang berasal dari Klaten dan Bantul. Sepeda-sepeda itu hanya bertarif 3 jutaan, tergantung situasi dan kondisi sepeda.
TUTUP DAN BUKA SESUAI SELERA
Tidak ada waktu yang pasti untuk jam buka atau jam tutup bengkel, semua mengalir begitu saja. Terkadang Pak Mardi membuka bengkelnya jam 8 pagi lalu menutupnya jam 8 malam. Hari lainnya ia buka jam 10 pagi dan menutupnya jam 6 sore. Semua tergantung situasi dan dibuat sesantai mungkin. Pak Mardi memang mengaku tidak memiliki target seperti yang dimiliki bengkel-bengkel lainnya. Ia melakukan pekerjaan itu dengan senang hati tanpa melulu mengincar materi.
Hal ini terbukti dari deretan sepeda yang teronggok dibengkelnya, jumlahnya hampir mencapai 30 sepeda. Bukan, sepeda itu bukan koleksi milik Pak Mardi yang akan dijual, melainkan sepeda milik para konsumer.
Menurutnya, mungkin si pemilik lupa mengambil kembali sepeda yang telah direparasi tersebut. Beberapa lainnya mungkin belum punya biaya untuk menebus kembali sepedanya padahal ongkos perbaikan tidak mahal.
Sepeda-sepeda itu ada yang sudah teronggok selama lebih dari setahun. Hal ini tentu saja bisa dijadikan alasan untuk menjualnya pada konsumer lainnya. Namun, karena ia memang tidak mementingkan materi, hal itu tidak dilakukannya. “Saya akan tetap menunggu pemiliknya.” katanya tulus.
SERING MANGKAL DI DEPAN KANTOR POS BESAR
Langit mulai gelap, Pak Mardi pun tampak mulai berbenah-benah. Sebelum kami benar-benar berpisah, ia menambahkan bahwa ia senantiasa mangkal di depan kantor pos pusat Yogyakarta saban Sabtu pukul 19.30 untuk berkumpul bersama teman-temannya dari komunitas PODJOK (Paguyuban Onthel Djogjakarta), komunitas yang terdiri dari orang yang memiliki sepeda, suka naik sepeda, dan cinta dengan sepeda.
Rupa-rupanya dari komunitas yang berdiri sejak November 2006 itu telah lahir puluhan penghargaan, yang di antaranya berdiri gagah di etalase yang ditempatkan di sudut bengkel sepeda.
“Ngontel mi gunani kagem tiyang sanes uki kagem keluarga mas.” Kata pak Mardi menutup perbincangan dengan media ini, yang membuka usahanya di Jl. Wates km 3,5 Yogyakarta. “Apakah anda terinsfirasi ? kontributor majalah burung pas.com mengambarkan. “Patma wt/red*
