Sleman Kembali Wakili DIY dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara di TMII


Ilustrasi bregada Prajurit

Majalah burung pas.com elektronik online gagasan untuk menjadi wakil karnaval di Taman Mini untuk duta DIY, ternyata berpeluang mengangkat hasil sejarah yang penuh fenomental bagi bangsa ini. Buktinya DIY di yang di wakili Sleman untuk yang kesekian kalinya akan kembali mewakili Propinsi DIY dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara Nusantara tahun 2011 Minggu 23 Oktober 2011 mendatang.

Perwakilan tersebut dilakukan oleh Bregada Purboyo asal Berbah Sleman yang beranggotakan 68 orang prajurit.  Selain melakukan karnaval prajurit Bregada Purboyo juga akan menampilkan fragmen dengan judul “Darmaning Satria Utama”.

Adapun tim produksi Bregada Purbaya terdiri atas sutradara dan penata tari Agus Sukina, S.Sn, penata iringan  Agus Marwanto, penatabusana Retno Mursilah. Sedangkan tokoh Pangeran Purbaya diperankan Damar Kasiadi, Jan Pieter Zoon Coen           oleh Johan, dan Tumenggung Sura Agul-Agul oleh Surono.

MENGGAMBARKAN SUASANA SAAT PERANG

Fragmen tersebut menggambarkan suasana perjuangan dan kejuangan semasa kolonial Belanda. Pada masa kerajaan Mataram, tanah Jawa Dwipa yang gemah ripah loh jinawi, tersebutlah Pangeran Purbaya atau Purbaya II putra dari Jaka Umbaran, yaitu cucu dari Panembahan Senopati dengan Putri Nggiring Niken Purwasari yang bergelar Ratu Lembayung. Beliau juga disebut Panembahan Purbaya yang mengalami hidup tiga masa pemerintahan raja-raja Mataram, diantaranya Sultan Agung Hanyokrokusumo, Sultan Amangkurat Agung dan Sunan Amangkurat Amral.

Pada masa penjajahan Kompeni Belanda tahun 1628-1629 terjadilah pergolakan batin dalam hati Pangeran Purbaya yang melihat ketidakadilan Kompeni Belanda pimpinan oleh Jan Pieter Zoon Coen. Jan Pieter Zoon Coen dengan berbagai tipu muslihat berusaha memperdaya Pangeran Purbaya, namun Pangeran Purbaya tidak terpedaya.

Pangeran Purbaya memanggil Tumenggung Sura Agul-Agul, untuk membentuk pasukan antara lain prajurit putri yang diberi nama “Bregada Prajurit Langen Kusuma”, bekerjasama dengan pemimpin prajurit yang lain yaitu Tumenggung Bahu Rekso dan Tumenggung Singo Ranu untuk menyerang pertahanan penjajah. Tumenggung Sura Agul-Agul merasa bangga karena merasa diberi kehormatan untuk memimpin prajurit Mataram.

Prajurit Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Sura Agul-Agul melakukan persiapan dan latihan perang dengan penuh semangat supaya dapat segera mengusir penjajah dari Tanah Jawa. Bregada prajurit Langen Kesuma tidak kalah semangatnya untuk berlatih perang dalam tekad melawan penjajahan Kompeni Belanda, belajar ketangkasan untuk menguasai senjata panah.

Dilain pihak, prajurit Belanda berlatih baris berbaris dan berlatih menembak dengan senjata senapan laras panjang, untuk sewaktu-waktu terjadi peperangan yang tidak dapat dihindarkan bersama Jan Pieter Zoon Coen.

Pertempuran sengit pecah antara barisan Prajurit Mataram melawan pasukan Kompeni Belanda. Semua senjata tradisional Mataram dikeluarkan tombak, pedang, keris, cundrik, panah, hingga membuat barisan pasukan Kompeni Belanda kewalahan.

Pimpinan pasukan Belanda Jan Pieter Zoon Coen tidak mau ketinggalan untuk menerjang lawan dan berhadapan langsung dengan Tumenggung Sura Agul-Agul. Namun Pangeran Purbaya tidak tinggal diam, tetapi segera membantu Pasukan Mataram hingga berhasil melawan Kompeni Belanda dan mengalahkan Jan Pieter Zoon Coen.  Kemenangan dan kepahlawanan Pangeran Purbaya menghalau penjajah diakui oleh seluruh masyarakat Jawa Dwipa dan seluruh negeri tercinta.

REVITALISASI DAN PELESTARIAN

Sementara terkait dengan acara karnaval ini Kepala Bidang Peninggalan Budaya dan Nilai Tradisional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman HY Aji Wulantoro, SH mengungkapkan bahwa event Karnaval Keprajuritan Nusantara ini merupakan ajang yang cukup strategis bagi upaya revitalisasi, pelestarian dan peningkatan apresiasi dikalangan pelaku seni budaya maupun bagi masyarakat secara umum. Aji juga menambahkan bahwa seni dan budaya memiliki peran yang cukup signifikan dalam membangun peradaban manusia menuju peradaban yang adiluhung.

Dalam hal ini pemerintah tidak bisa secara terpisah melakukan upaya pelestarian seni budaya tanpa adanya peran aktif dari para stakeholder dan masyarakat umum. Pemerintah, stake holder dan masyarakat perlu secara terpadu dan sinergis membangun peradaban melalui pelestarian seni dan budaya yang ada di masing-masing daerah.

Aji menambahkan bahwa dalam hal pengiriman kontingen Bregada Purbaya dalam event Karnaval Keprajuritan Nusantara 2011, kejuaraan bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah bahwa makna kejuangan dan kewiraan dalam mempertahankan ibu pertiwi benar-benar tertanam dan terinternalisasi dalam bregada prajurit tersebut. Yang pada gilirannya juga akan tertanam kepada generasi berikutnya.

Karena pemilihan wakil Sleman yang dalam hal ini membawa nama Propinsi DIY benar-benar diambilkan dari bregada yang memang eksis dan bukan bentukan sesaat hanya untuk mengikuti event tersebut. *Patma witana*

 

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


0){; ?>

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi