Kesenian Jawa Ketoprak Tobong, makin tergerus zaman, masih ada di antara yang tersisa"


PANGGUNG KETOPRAK TOBONG, YANG MAKIN TERPEPET BUDAYA ASING

Majalah burungpas.com, halaman seni dan budaya, “ Bangunan panggung semi permanent di sebuah tanah lapang area persawahan, yang di kelilingi seng bergambar ornament dan di terangi beberapa buah lampu, dengan cahaya remang serta alunan suara gamelan. Tampak di datangi para penonton yang kebanyakan berumur paruh baya, Untuk bernostalgia menikmati pertunjukan drama asli jawa ( Ketoprak) .

Sebuah panggung yang di kelilingi seng dengan lukisan ornament berdiri di sebuah area persawahan di desa Mbayen, Selomartani, Kalasan, Sleman, Jogjakarta menjadi saksi bisu masih adanya pertunjukan ketoprak tobong yang di mainkan beberapa hari yang lalu.

Jabat tangan sebagai bentuk penyambutan kedatangan para pemain menggambarkan keakraban serta solidaritas di antara mereka makin kental, walaupun usia mereka sudah paruh baya, canda ceria  sesekali menghibur di antara mereka, meskipun pula kening kadang berkerut, karena kesenian ini  sudah makin langka karena tergerus zaman.

Pertunjukan seni ketoprak tobong memang tak lepas dari tokoh yang peduli seperti pak Dalang” yang membagi tugas agar acara ini dapat sukses, maka lakon yang sejak semula akan di tampilkan sudah di sosialisasikan bersama.

Acara penuangan dilakukan, satu – persatu kepada para pemain meskipun di tempat yang mereka sebut tritisan. Setiap pentas ketoprak Tobong tentu, pemain kesenian ini memiliki peralatan Make up dan Kosmetik, yang tak terlalu menor, dan hanya  seadanya.

Setelah beberapa saat bunyi gamelan yang di mainkan para Wiyogo terdengar, para penonton mulai mendatangi bilik loket yang telah di sediakan. Penonton yang kebanyakan berumur paruh baya ini datang bersama anak – anaknya “ Kata salah seorang yang tak mau di sebut namanya mengatakan “Saya mengajak anak-anak “Ben Putu benpodo  ngerti Budoyo “, Kata pria tersebut.

Pementasan kesenian tahap pertama di mulai setelah lampu besar yang terpasang diatas tempat duduk para penonton dimatikan dan hanya terlihat remang-remang sambil melihat  kelir utama sebagai pusat pandangan mata.

PENARI DAN PEMERAN DAPAT SAWERAN

Tiga orang penari membuka pementasan dengan tarian pembuka yang di iringi alunan suara gamelan. Sudah menjadi tradisi ketika kesenian budaya di pentaskan di mualai dengan tarian, Kemudian para penari tersebut di lempari saweran berupa rokok, dan uang dari para penonton. Jadilah tepuk tangan para penonton menambah ramai suasana pertunjukan Ketoprak Tobong itu.

 

melihat ketoprak tobong

Pemeran suminten edan di ketoparak tobong

Tepuk tangan para penonton dan Tawa penonton semakin meriah ketika tokoh utama / roll dalam judul itu Suminten Edan tampil di atas panggung dengan penampilan yang menghibur para penonton. Beberapa kali penonton terlihat melemparkan Rokok serta uang ke atas panggung sebagai bentuk pengekspresian senangnya karena terhibur dengan pertunjukan tersebut.

Lampu Panggung yang dimatikan, Kelir utama di tutup dan kelir bergambar berganti tanda pergantian adegan. Beberapa pemain Bolo Dupak gantian beraksi diatas panggung. Adegan perkelahian terlihat seru dan atraktif, salto dan Gulat nampak seperti perkelahian sungguhan. Penonton dengan serentak bertepuk tangan dan histeris menjerit kagum melihat pertunjukan tersebut.

Salah seorang pemain yang berperan sebagai senopati dengan Surjan hijau, dan blangkon tengah menunggu masih piawai dalam memerankan tokoh yang di embannya, pemain ini sudah berusia 83 tahun yang di perankan oleh seorang Perempuan. “ Saya sudah melakoni  seperti ini, sejak masih muda, tetapi sekarang sudah tidak selincah dulu “kata pemeran yang mengaku “Mami Sud tersebut.

SENIMAN KETOPRAK TOBONG HONOR KECIL

Dia menambahkan “Jaman dahulu ketoprak tobong sangat di gemari masyarakat khususnya di Jawa, namun kini keberadaan ketoprak Tobong/Kelana. Nyaris punah, makanya saya ikut pentas terus agar tetap lestari “ujarnya.

Kalau berbicara pendapatan dari seorang seniman seperti saya ini, jelas pendapatan sangat minim, hanya 26 ribu dalam seminggu dengan 3 kali pentas “terangnya. Kepedulian untuk main agar kesenian tetap eksis terus kami sampaikan, hal ini tidak melihat nilai uangnya, tetapi semangat untuk tetap berkarya, di bidang seniman perlu di contoh, Nah kalau tidak kita yang melestarikan, ya siapa lagi “tutupnya.

Agaknya kesenian daerah Ketoprak Tobong  yang pernah legendaris tersebut, makin tergerus zaman dengan budaya asing.  “Nah sampai kapankan kesenian ketoprak tobong mampu bertahan, sedang generasi makin asing dengan kesenian ini, selain sawah sudah di tanami pabrik dan perumahan ?  “Febru Kresnanto

 

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


0){; ?>

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi