Festival budaya Jogja 2011 memiliki peran ganda
peserta festival adat 2011
Redaksi-Majalahburungpas.com, setiap daerah memiliki kekayaan dan adat istiadat yang telah lama di jalankan di suatu daerah, sedang upacara Adat sebagai produk budaya tradisi, tentu saja kekayaan budaya ini memiliki fungsi ganda baik ritual komunikasi manusia dengan Tuhan, juga terkandung perekat social.
Pengukuhan nilai-nilai, wahana ekspresi kolektif & pengembangan nilai-nilai ekonomi (wisata budaya juga menjadi rangkaian penggugah semangat di suatu desa atau wilayah tersebut).
Festival Bentara Upacara Adat diselenggarakan sebagai upaya menjaga eksistensi & pemberdayaan Upacara Adat menjadi sebuah atraksi budaya dengan tidak mengubah nilai-nilai esensialnya, fokusnya pada pengemasan ke masyarakat dengan cara & bentuk yang menarik - komunikatif, sehingga dapat dinikmati, dihayati dan diapresiasi.
Selain itu, Festival ini juga berupaya mendorong para pelaku upacara adat di DIY untuk lebih gigih lagi menggali & mengeksplorasi nilai-nilai tradisi demi menemukan keotentikan yang sesuai dengan latar historis, kultural dan sosial.
Dari sana, kita akan menjumpai berbagai keragaman budaya -bukan penyeragaman- terutama dalam hal bentara atau prajurit pengawal/kelompok pengiring upacara adat.
Festival Bentara Upacara Adat yang kali kedua ini akan dilaksanakan pada hari Ahad, 17 Juli 2011 mulai jam 14.00-17.30 direncanakan dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X, bertempat di depan Pagelaran Kraton Alun-Alun Utara Yogyakarta.
Acara ini diawali kirab kebesaran masing-masing kelompok dan berjalan dari halaman Museum Sonobudoyo yang diikuti oleh 5 (lima) kontingen Bentara Upacara Adat unggulan se Propinsi DIY, bermaterikan masing-masing kurang lebih 100 orang gabungan kelompok seni & masyarakat pelaku upacara adat, yaitu : Bantul Merti Desa Garebeg Selarong, Sleman Saparan Ki Ageng Wonolelo, Kulon Progo Napak Tilas Nyi Ageng Serang, Gunung Kidul Rasulan Ruwat Bumi Jerukwudel dan Kota Yogyakarta Sadranan Saeko Kapti Sosromenduran.* Padma W *
