Concert Tari tradisional Sunda "Slendang Kemben Binarung


Salah satu karyanya Tari Slendang Kemben Binarung kesenian yang perlu mendapat respon positif

Oleh : Bobbie Rendra | foto : Febriandi Dimas Wara |

Bandung, media online majalahburungpas.com, warta kesenian dan budaya, Tidak selamanya sebuah pagelaran yang layak mendapat sebutan “konser” itu harus menganut item konser ala barat.

Pada 2 Februari 2013, segenap pewaris kesenian jebolan Pusat Olah Tari dan Karawitan (POTKA) Setialuyu yang diketuai H. Moh. A’im Salim, sukses menampilkan passion dan identitas berkesenian anak didiknya di atas panggung Teater Terbuka, Dago Tea House.

Gerakan resistensi budaya yang masih miskin perhatian generasi muda yang satu ini pun seolah berpesan kepada kita semua, bahwa kesenian non-barat pun ternyata masih punya hak dan kualitas yang sama untuk bisa melahirkan gigs-nya sendiri : sebuah pagelaran konser panggung kehidupan – yang mencirikan dengan kental suatu faktor geografis tempat di mana penduduknya berpijak sejak lahir, tempat di mana keringat masyarakatnya menetes hingga akhir hayat.

Kami berkesempatan untuk mendokumentasikan sebuah event “besar” yang masih sebatas diminati masyarakat minoritas satu ini-sambil menimbang suatu prediksi manis bahwa di dalam negeri ini “kekerasan budaya” masih bakal terus berlangsung sebagai sesuatu yang natural – layaknya seleksi alam yang akan terus berlangsung. 

Hingga berakhirnya era 2012 kemarin, jumlah event yang berisi galeri olah tubuh yang “berpuisi” – dengan seni budaya sebagai mediumnya, masih sangat jarang menjadi santapan generasi muda di Indonesia, khususnya Kota Bandung.

Hingga saat ini, eksistensi seni tradisi masih berusaha bergerak “dalam genggaman” dominasi seni modern yang mendapat dukungan penuh oleh media. Beruntungnya, masih ada pihak-pihak “langka” yang pantang menyerah.

 Secara konsisten mereka terus berusaha mendongkrak rasa kepedulian masyarakat terhadap pelestarian seni budaya seperti ini agar tidak tenggelam dan punah – sehingga tinggal berbekas mitos untuk anak-cucu kita kelak (semacam kisah dinosaurus?).

Pihak-pihak seperti itu patut diacungi jempol dan mendapat tempat apresiasi yang tertinggi, di samping perlu mendapat perhatian serius, di tengah maraknya kesenian barat yang mengerubungi nusantara ini agar kiprahnya dapat terangkat dan ngetop, Oleh sebab itu perpaduan kesenian yang mengingatkan kita agar mampu menerobos persaingan dan ini bagian dari kekayaan budaya  serta menambah kekayaan intelektual masyarakat Jawa Barat “sebagai salah satu kota yang memiliki “wadah” terlengkap untuk segala jenis kesenian di Indonesia. (bersambung/berkelanjutan...)

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


0){; ?>

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi