Supangat Sukses dari hasil Tamanan Keras,


Jenis tamanan keras yang di kembangkan Bapak Supangat.

Majalahburungpas.com, Usaha pembibitan tanaman keras atau perindang memberi peluang bisnis bagi orang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dengan waktu pemeliharaan yang singkat membuat usaha ini semakin moncer sepanjang tahun.

      Usaha pembibitan tanaman keras sebenarnya sudah ada sejak kolonial Belanda. Tetapi pembibitan dari jenis tanaman ini baru mulai booming di tahun 2004 saat pemerintah mengadakan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan serta penanaman satu juta pohon terkait isu global warning. Melihat peluang yang terbentang luas tersebut menginspirasi Supangat untuk mengembangkan bisnis tanaman yang selama ini ia geluti.

      Prediksi Supangat memang tidak keliru. Hanya dalam hitungan minggu pesanan mulai datang membanjiri. Pesanan datang tidak hanya dari lembaga atau intitusi pemerintah, namun juga perseorangan. Mereka selalu mencari pohon yang berfungsi sebagai tanaman sekaligus perindang.

      Menurut Supangat, sejak adanya kampanye penanaman satu juta pohon permintaan pasar akan tanaman keras terus mengalami peningkatan. Berbagai jenis tanaman seperti ketepeng, kepel, glodogan dan dadap merah banyak yang mencarinya.

      Permintaan tanaman keras memang tidak datang setiap hari. Tetapi kebutuhan akan tanaman ini tetap tinggi. Dalam setiap transaksi pasti dalam jumlah besar hingga mencapai puluhan batang. Bahkan kadang ia tidak mampu memenuhi permintaan yang datang tiba-tiba.

      Tingginya permintaan tanaman keras kadang memang tidak diantisipasi oleh Supangat. Namun guna memberi  kepuasan ke pelanggan ia tak jarang bekerjasama  dengan pelaku usaha yang lainnya, terutama yang sudah dikenalanya.

      Selain melayani tanaman keras  atau tanaman perindang, Supangat juga menyediakan tanamam keras lainnya, yakni tanaman buah. Dan tanaman dari jenis ini pun tak kalah banyak peminatnya. Di antara kebutuhan tanaman keras untuk perindang, biasanya pembeli juga membutuhkan tanaman keras berbuah.

      Dari kedua jenis usaha pembibitan ini, dia mengaku usaha inilah yang sekarang lebih memberi keuntungan dibandingkan tanaman hias yang sudah belasan tahun ia tekuni.

      Usaha agribisnis yang digeluti Supangat hingga di usia senja berawal dari tanaman rumput hias manila. Tanah waris dari sang mertua seluas 450 m2 bukannya ditanami padi. Dengan sedikit melawan arus ia yakin bisnisnya akan moncer karena minimnya persaingan.

      Sungguh perhitungan yang jitu. Perlahan tapi pasti, dengan maraknya pembangunan kompleks perumahan memberi berkah usahanya. Rumput-rumput manila yang ditanamanya diborongnya. Tidak hanya developer yang membutuhkan rumput manila miliknya tetapi ada juga perseorangan hingga instansi sekolah.

      Merasakan keuntungan dari penjualan rumput manila, kemudian ditambahnya jumlah dan koleksi tanaman hiasnya. Seperti mawar, melati, palem,kamboja serta berbagai tanaman keras lainnya. Khusus kamboja ia selalu mendatangkan dari Thailand.

      Semakin lengkap koleksi Supangat, usahanya pun makin berkibar. Lima tahun berjalan bisnis menampakan hasil yang tinggi.Jejak bisnisnya kemudian diikuti tetangganya. Namun hal itu tidak berpengaruh pada dirinya. Pelanggan baru selalu datang ke tempatnya.

      Adapun harga yang ditawarkan ayah dari enam anak ini mulai Rp 2.500,- s/d Rp 100.000,- untuk jenis tanaman hias atau bunga. Sementara jenis tanaman keras seperti perindang dijualnya antara Rp 50.000,- hingga Rp 75.000,-. Dan tanaman keras jenis buah dijualnya seharga Rp 15.000,- dengan tinggi 50 cm, serta Rp 75.000,- hingga Rp 100.000,- dengan ketinggian 2-2,5 meter.

      Keluarga Cendana jadi pelanggan tetapnya

      Tidak terlintas dalam benak Supangat sebelumnya, bahwa usaha yang ditekuninya akan menjadi langganan keluarga Cendana, seperti Tutut dan Tomi Soeharto. Selain keluarga Cendana, beberapa menteri era Soeharto, seperti Harmoko dulu juga selalu membeli tanaman hias darinya.

     << Bapak Supangat. Ketenaran Supangat dalam penyediaan aneka tanaman hias memang telah lama. Karena setiap proses pengerjaan tamannya pun dikerjakan sendiri oleh Supangat. Terakhir yang ia tangani adalah rumah Tutut yang terletak di kompleks pemakaman Ibu Tien Soeharto, Giribangun Karanganyar.

      Kendati era kepimpinan Soeharto telah runtuh, usaha tanaman hias Supangat tetap berjaya. Tiap kali keluarga Cendana menghias halaman, mereka selalu mendatangkan bibit tanaman darinya.

      Tapi sayang, sejak boomingnya Jemani sempat mengoyahkan agribisnisnya. Kebutuhan tanaman hias berkurang secara dratis. Beruntung, setelah jemani tidak lagi menjadi tren, usahanya mulai pulih kembali.

      Bahkan di tahun 2008-2010 silam, Supangat mendapatkan proyek taman di kampus UIN Yogyakarta seluas 2.000m2 dengan nilai sebesar Rp 50 juta-an. Selain UIN, proyek taman yang digarapnya adalah UMY dan ISI Yogyakarta.

      Berkat usaha yang digelutinya menjadi langganan keluarga Cendana, Supangat pun dapat menunaikan ibadah haji. Selain itu, pria asal Banjarnegara ini juga berhasil membeli sebidang tanah yang cukup luas serta tiga buah mobil. Dan meski usianya sudah senja tapi ia tetap semangat menekuni usaha ini yang sudah dijalaninya selama 30 tahun.

      Lebih jauh Supangat berharap anak bungsunya bersedia meneruskan usaha tamanan ini dan mengembangkan lagi karena menurutnya bisnisnya akan tetap memberi harapan. Hal ini terbukti masih banyaknya pelanggan yang datang. Rata-rata mereka dari golongan menengah ke atas.anjar 

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi