Pohon gaharu mudah di budidayakan


BIBIT GAHARU

Pertanian majalahburungpas.com, Pohon Gaharu awalnya tumbuh subur di hutan Indonesia. Namun adanya pembalakan liar keberadaan Gaharu semakin langka. Hal ini memang bisa dipahami karena Gaharu  memiliki berbagai manfaat. Dan oleh sebagian masyarakat Indonesia Gaharu digunakan untuk obat nyamuk dengan cara membakar kulit atau kayu Gaharu.  Meski  Gaharu saat ini tergolong spesies tumbuhan yang langka bukan berarti tidak dapat dibudidayakan.

Pohon Gaharu ini pada dasarnya sangat mudah tumbuh di iklim tropis seperti Indonesia. Selain itu pohon Gaharu dapat di tanam dengan sistem monokultur maupun tumpang sari. Dengan system tanam yang mudah serta besarnnya manfaat pohon Gaharu ini dalam perkembangannya Gaharu menjadi lading bisnis baru bagi petani baik perseorangan maupun kelompok.

Menurut salah satu tim PPL Gaharu Yogyakarta, Henry Wirawan Gaharu merupakan substansi aromatic yang berupa gumpalan yang terdapat di antara sel-sel kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas serta memiliki kandungan kadar damar wangi. Gaharu yang juga biasa di sebut dengan Karas, Alim atau Garu, 70%nya berasal dari Indonesia. Namun karena sekarang hutan Indonesia sudah tidak mampu memenuhi permintaan pasar dunia maka pohon Gaharu akhirnya dibudidayakan, baik perseorangan maupun kelompok.

Lebih jauh pemuda lajang yang tinggal di dusun Ngentak Pendowoharjo ini mengatakan cara tanam pohon Gaharu dengan system monokultur jarak tanam yang dapat digunakan yakni 1mx1m, 2mx2m, atau 3mx3m, dapat juga menyesuaikan lahan yang ada. Sedangklan untuk populasi tanamnya dalam 1 H dengan jarak 3mx3m adalah 1.000-2.000. Namun mengingat pohon ini mudah patah oleh karenaya diperlukan perawatan ekstra selama 2-12 bulan. Selain itu juga diperlukan naungan atau teduhan sehingga cahaya yang masuk hanya 40 s/d 60% serta hindarkan cahaya matahari langsung dari jam 10.00 hingga 15.00 wib.

Kecuali system monokultur, lanjut Henry, pohon Gaharu ini dapat ditanam dengan pola tanam tumpang sari, yakni di tanam di sela-sela tanaman lainnya. Penamanan tumpang sari bisa bersamaan dengan dengan pohon karet, sawit, sengon, mahoni bahkan bersama tanaman pertanian seperti cabai, tomat, singkong maupun buah-buahan.

“Pada dasarnya Gaharu mudah tumbuh di mana saja dengan ketinggian 0 s/d 1200 DPL (di atas permukaan laut), mau ditanam monokultur, tumpangsari ataupun di sekeliling kolam atau peternakan Gaharu tetap subur, seperti yang ditaman oleh warga Kadek Rowo Gilangharjo” ujarnya.

Menjawab pertanyaan majalahburungpas tentang cara tanamnya, Henry menjelaskan sebelum ditanam Gaharu hendaknya dikarantina terlebih dahulu di tempat yang sejuk kurang lebih 2 minggu, sembari menyiapkan lubang dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm. Dan dalam lubang tersebut berilah pupuk kandang atau kompos sebanyak 2-5 kg  yang dicampur dengan tanah lalu diamkan 2-4 minggu. Selama karantina jangan lupa disiram.

Untuk mendapatkan ukuran besaran s/d 4 cm dalam setahun, lakukan pemupukan 3 hingga 4 kali dan agar hemat gunakan pupuk kandang atau kompos. Apalagi pupuk kimia dapat mempengaruhi aroma, menurunkan harga jual serta dapat merusak tanah.

Henry menambahkan karena pohon Gaharu akan menghasilkan Gubal pada umur 30 tahun, secara alami, maka untuk mempercepat diperlukan rekayasa Inokulasi atau penyuntikan. Akan tetapi proses Inokulasi ini dapat dilakukan apabila diameter pohon tersebut telah mencapai 10 hingga 15 cm dengan umur minimal 3 tahun. Setelah itu boleh dipanen.

Meski Gaharu dapat tumbuh dengan subur bukan berarti terbebas dari ancaman penyakit. Hama yang biasanya berupa jamur dan ulat daun. Meski ada ancaman hama, petani dapat mengatasinya dengan cara mudah, yakni dengan air cucian beras yang dicampur tembakau atau bias juga dengan cabe yang dicampur tembakau lalu semprotkan. anjar

Sharing Berita

Berita Terkait


1 Komentar


anthony
25 July 2012

salam kena... kami juga budidaya gaharu

Balas

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi