Kapan lomba burung ocehan di mulai dan apa kriterinya ?


Lomba burung kini sudah modern, di tenda vip, awalnya hanya segelintir orang saja

Redaksi majalahburungpas.com, Kicau mania tahu, kapan lomba ocehan awal di gelar ? berikut uraian sejarahnya. Sejarah lomba burung  di Indonesia mulanya berdiri atas inisiatif segelintir orang untuk mencari suara terbaiknya.

Di Indonesia mulai di kenal sekitar tahun 1973. Hobi tersebut diwujudkan dengan menggelar pertemuan sambil membawa burungnya ke suatu lokasi. Kebiasaan ini berlanjut dengan memberi penghargaan pada burung yang bersuara bagus, dan secara mufakat di akui memiliki ocehan yang  layak untuk di nobatkan sebagai juara.

Semenjak itulah mulai berkembang lomba burung ocehan hingga akhirnya tak hanya sekedar hobi, tetapi lomba menjadi lomba yang komersial. Perkembangan yang lain semula hanya berkelas lokal meningkat menjadi regional bahkan nasional.

Pada awal penyelenggaraan untuk di Indonesia dipegang oleh Pelestari Burung Indonesia (PBI) namun perkembangan yang makin modern, sekarang sudah banyak organizer independen yang mendirikan dan mengadakan lomba, dengan membuat EO hingga menjadi ajang bisnis di berbagai wilayah, alas an yang lain karena prospek keuntungan secara riil lomba burung ocehan memang ada.

Penilaian lomba burung dari dulu sampai sekarang sebenarnya belum berubah, meskipun ada pembenahan penilaian,  terutama dari segi suara dan tonjolan burung yang memiliki ( tembakan ) dan gaya yang terus berubah, sesuai perkembangan dan kondisi.

Sedang penilaian yang pertama di fokuskan bagi burung yang bersuara baik dan  mempunyai nilai tertinggi. Suara variable adalah sebuah irama lagu kicauan, Bila irama bagus yang kemudian di sela – sela ada tembakan itu termasuk bagian dari variasi yang berkualitas.

Ada beberapa kriteria penilaian yang dianggap berkualitas diantaranya adalah :

  1. Irama / Lagu

Adalah rangkaian bunyi yang memiliki alunan serta teratur bahkan di anggap seimbang serta serasi. Ibarat nyanyian ataupun musik, tentu ada hentakan, alunan/ cengkok yang digelincirkan serta di sendatkan yang secara keseluruhan merupakan konfigurasi susunan bunyi yang memiliki harmoni, keserasian dan keterpadanan dan keteraturan.

2 Volume dan suara

Adalah urutan atau kekerasan dari pelan sampai keras. Tetapi bagi yang memperhatiakan dan pengamat secara kusus memang pas jika diperhatikan kulitas suaranya,artinya merdu dan filter suara kejernihan dan lengkingannya. Arti merdu tentu berkaitan dengan nada rendah yang bersih sehingga terasa empuk di  pendengaran tidak sember, atau gembret, sedang arti lengking berkaitan dengan nada tinggi yang bersih, nyaring dan kristal tidak serak atau risih di dengarkan.

3.Fisik / Gaya

Penilaian secra fisik bagi burung, mengacu pada morphologis se ekor burung sedang ( keindahan bulu, bentuk tubuh, kesehatan   saat berbunyi, saat bertengger di tangkringan, yang memainkan atau menggerak – gerakkan kepala, ekor, dan sayap tanpa mengurangi kualitas suara dan irama lagu merupakan bagian dari seni burung ocehan yang di nilai.

Sebagi contoh, Dewasa ini ada kontes suara manusia. Sebagai contoh lomba Campursari, kontes dangdut TPI, Indonesian Idol, dan lain - lain  itu bagi mereka yang tampil akan mempersiapkan diri sebaik – baiknya, baik dari suara maupun penampilannya, jangan sampai bersuara cempreng dan fisik tidak enerjik, apalagi, cacat tubuh terlihat nyata, akan mendapat nilai yang kurang. Bagi mereka yang masuk juara tentu adalah  yang berpenampilan oke tidak mengecewakan, Nah pemirsa, hubungannya dengan lomba burung,  apa ? tentu ada kesamaan dalam menilainya yaitu suara dan fisik.

Untuk kontes burung berkicau para yuri dalam menilai burung uyang sedang berbunyi tentu burung yang di menangkan memiliki suara dan fisik yang bagus serta pantas. Ketika di lapangan saat ada lomba burung berkicau kadang terjadi perdebatan hebat, tatkala yang mendapat koncer ( bendera besar ) adalah burung yang memang layak,  tetapi secara nyata apabila tampak ada cacat fisiknya, misalnya ekor brondol, sayap sengkleh, kaki cacat, bulu di leher habis gundul dan lainnya maka di pastikan tidak akan menjadi perhatian.

Dalam penilaian berbagai organizer telah membedakan beberapa criteria, dan ini tampaknya sudaj pada klop, sebab  penilaiannya terbagi  5 kriteria yaitu : variasi lagu, volume, panjang lagu, kerajinan dan gaya.

Dalam penilaian burung di lapangan terkadang juga hanya 3 kriteria dalam penjurian ( irama/lagu, volume/suara, fisik/gaya ). Di dalam penilaian setiap lomba, Mengenai mana yang terbaik, tentu para pelomba bilang fleksibel, sebab juga tergantung puas tidaknya pelomba itu sendiri, di sisi yang lain karena yang berhak menentukan diarena lomba adalah juri, bagi pelomba hanya bisa memantau kepekaan telinganya dan juga sensitifitas para juri dan  mental pelomba di samping, juri akan terus meningkatkan dan mengasah kepekaan serta sensitifitas nurani pula.

 Kini para peserta lomba akan terus belajar menyiapkan mental baja,  sehingga bila burung dikalahkan atau kalah karena sebab kualitas, maka kita perlu ambil hikmahnya dengan lapang dada, dan  apabila burung kesayangan tersebut belum mendapat koncer bendera yang di inginkan, ini perlu intropeksi diri terutama soal jawra tersebut. “nah dengan kekalahan tersebut, tentu kedepan akan menjadi bahan instropeksi, terhadap isian dan perawatan burung agar lebih kreatif dan serius.  Langkah ini penting kita terapkan agar penampilan berikutnya, pelomba akan lebih siap,  baik dari sisi mental burung, dan mental pemiliknya “maksud dan tujuanya,  “setidaknya para pemain menjadi lebih faham dengan beberapa Kriteria penilaian separti dalam muatan ini.

 

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi