Stefan "Perencanaan Pembangunan Harus Membahas Pengurangan Risiko Bencana
steven pembicara
Majalahburungpas.com, Tidak hanya Indonesia akan tetapi kota-kota di kawasan Asia Pasifik pun berada di kawasan rawan bencana.
Sehingga saat terjadi gempa negara-negara kawasan ini cenderung mengalami kerusakan yang sangat parah. Di tahun 2011 lalu bencana alam di seluruh dunia mengakibatkan kerusakan senilai lebih dari UU$ 380 miliar.
Di mana jumlah ini merupakan jumlah tertinggi yang tercatat dalam sejarah. Oleh karenanya hal ini menjadi keprihatinan bersama. Hal tersebut diungkapkan Stefasn Koeberle, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Jakarta dalam free konferensi di JEC menjelang diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi Kementrian Asia tentang Pengurangan Risiko Bencana ke 5.
Stefan juga mengatakan sebenarnya kita dapat meminilasir dampak bencana alam ini dengan memasukan komponen mitigasi dalam perencanaan pembangunan.
Hal ini dilakukan misalnya dengan penilaian risiko bencana suatu daerah, pembangunan perumahan, sekolah serta gedung-gedung lain dengan menggunakan kontruksi tahan gempa.
Selain itu perlu adanya edukasi pengetahuan kebencanaan bagi masyarakat. Sehingga dengan pendekatan ini dapat melindungi kemajuan yang telah dicapai secara signifikan.
"Penekanan pada tema pengurangan risiko bencana dalam konferensi kali ini mencerminkan pengakuan dari berbagai kalangan akan manfaat dan pentingnya komponen tersebut. Diharapkan di masa epan penerapan komponen pengurangan risiko bencana dapat menjadi praktik standar sehingga sehingga hasil pembangunan yang telah dicapai dapat lebih dilestarikan" ujar Stefan.
Lebih jauh ia menguraikan sejak terjadinya tsunami di Aceh, Bank Dunia telah memberikan dukungan kepada masyarakat dan pemerintah Indonesia dalam melakukan sejumlahn program rekontruksi serta penguatan program melalui pengurangan risiko bencana.
Dukungan pendanaan yang dilakukan Bank Dunia tersebut disalurkan melalui pendanaan di bawah Multi Donor Fund untukl Aceh dan Nias (MDF) serta Java Reconsruction Fund (JRF). Dan khusus pasca gempa serta pasca letusan Merapi di Yogyakarta bantuan Bank Dunia mencapai US$ 785 juta.
Selain itu, tambahnya, Bank Dunia juga mengelola sekitar US$ 6,25 juta untuk menfasilitasi bantuan teknis guna mengindentifikasi risiko, mengintergrasi program pemgurangan risiko dalam berbagai proyek penanaman modal serta membantu pembahasan kebijakan penyedian dana siaga tanggap darurat.
Dan saat ini program rekontruksi di Aceh, Nias dan Yogakarta telah membangun lebih dari 34.000 rumah tahan gempa, 2.655 kilometer jalan, 936 jembatan dan 1.473 kilometer saluran irigrasi.
Konferensi Tingkat Kementrian Asia tentang Pengurangan Risiko Bencana ke 5 diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan di dukung Golbal untuk pengurangan Risiko Bencana dan Rekontruksi berlangsung selama 3 hari dengan dihadiri sejumlah negara. anjar
