Breeding perkutut di kandang templek, perkutut bisa produksi


H. Suprayitno

Muatan majalahburungpas.com, Korda P3SI Yogyakarta termasuk hidup di banding korda-korda yang ada  di  DIY. Kegiatan lomba di daerah ini, bagi kung mania mampu membuat suasana semarak, apalagi tiap satu bulan di jadwalkan ada gelaran.

Salah satu pengagas lomba agar tetap eksis, adalah Bapak H. Suprayitno, yang tinggal di Jl Golo Yogyakarta, Ia dalam memangku sebagai ketua subkorda Umbulhajo mampu memberikan semangat bagi komunitas perkutut di pusat kota gudeg tersebut.

Ketika media ini, berbincang-bincang di rumahnya dengan beliau, mengatakan saya terbilang pemula di perkutut sebab baru satu tahun ikut lomba, tetapi dalam perkembangan karena banyak teman-teman menginginkan  agar ada subkorda baru di Umbulharjo, maka lantas saya di dapuk atau di angkat secara aklamasi sebagai ketuanya.

Seiring dengan kepercayaan tersebut, maka saya tak dapat menolak, sehingga saya bersama jajaran baru langsung membuat lomba yang bertitel Umbulharjo Cup dan sudah berjalan samapai sekarang “kata Yitno panggilan akrapnya.

Saat media ini melihat usaha perkutut yang di dirikannya, Ia berpendapat dalam dunia perkutut di perlukan kesabaran, mulai dari pemilihan indukan, cara beternak dan penentuan bibit yang unggul, nah di sini sambil belajar dengan para tokoh yang lain agar saya dalam beternak bisa menerapkan, dan menghasilkan yang terbaik, meskipin di akui  belum memaksimalkan,.

Enam (6 ) kandang Induk, dan 6 kandang sangkar templek dinding ternyata sudah, produksi  dan yang  sisanya juga masih dalam tarap penjodohan “kata Yitno kembali. Pantauan yang lain, meskipun dalam beternak masih belum maksimal, akan tetapi hasil dari anakannya sudah pernah ada yang laku sekiar 2 jutaan, yang di ambil oleh orang Madura beberapa bulan yang lalu.

Indukan yang di pakai juga sudah tergolong bagus, sebab dari trah dan darahnya yang di beli dari beberapa peternak di Jogja, Jateng, Jabar induk-induknya merupakan trah jawara di lomba perkutut. Dari catatan materi indukan yang dia miliki terdpat induk pejantan BBf di kawin silang dengan Betina Mila, BBf Black label di pertemukan dengan betina Bbf K. 76 merupakan  induk yang sudah produksi.

Sedang Bbf K 56 yang di kawin silang dengan Induka betina Ngun asal Jateng dengan darah atau cucu Den Bagus juga bagian dari breeding yang di pantau bapak Yitno, meskipun masih ada beberapa pasang materi yang yang dalam tarap penjodohan.

Materi perkutut  yang lain semisal ring cahaya, di kawin silang dengan anak Franconero yang saya silangkan dengan Bbf  k 59 merupakan hasil penjodohan yang mulai mengeluarkan piyik. Piyik-piyik yang ada sudah cukup lumayan, sebab sebagian pernah saya terjunkan di lomba-lomba, termasuk di Purwokerto beberapa waktu yang lalu itu adalah hasil dari farm gagasan “ujar Suprayitno.

Kedepan, saya akan lebih aktif, agar  Jogja makin ramai, di samping berharap usaha perkutut ini bisa lebih maju, oleh karena itu optimis dan kreatif positif merupkan semangatnya. Tutup mantan Penilik atau pengawas Bank BRI tersebut menutup penbincangan. *Team red Jogja*         

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi