Upacara adat Penguat nilai-nilai tradisi dan budaya lokal "
KRATON NGAYOGYOKARTO PUSAT BUDAYA
Muatan-majalahburungpas.com, halaman seni dan budaya. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan istana resmi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan).
Selain itu, Kraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah.
Di sisi lain, Kraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta
Keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memberikan konstribusi positif terhadap upacara-upacara tradisi di masyarakat kususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, baik yang dilaksanakan individu maupun kelompok.
Hal ini merupakan jati diri masyarakat Jawa yaitu karakter masyarakat yang religius setiap permohonannya diwujudkan dengan upacara upacara ritual dengan menggunakan simbol-simbol budaya.
Masyarakat Jawa pada mulanya bersifat masyarakat yang agraris dimana kekuatan-kekuatan alam dipahami sebagai manifestasi Tuhan YME maka simbol/ubarampe upacara tersebut terbuat dari hasil bumi mereka dibuat dalam berbagai macam bentuk, warna, rasa yang dimaknai dan memiliki maksud-maksud tertentu sesuai dengan keinginan yang diharapkan.
Namun hal tersebut karena tidak tertulis sebagai dokumentasi budaya untuk acuan generasi berikutnya dalam perkembangan di lapangan terjadi masalah masalah seperti pandangan musyrik/syirik karena tidak tahu maksud dan tujuannya serta mana filosofisnya.
Bertolak dari permasalahan tersebut, kegiatan Festival Upacara Adat tahun 2011 ini sebagai salah satu upaya kongkrit yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi DIY melalui Dinas Kebudayaan Provinsi DIY untuk melestarikan tradisi upacara adat yang ada di DIY serta meningkatkan apresiasi masyarakat dengan menampilkan berbagai upacara adat di wilayah Provinsi DIY yang dikemas sebagai atraksi budaya yang melibatkan unsur-unsur koreografi dan teatrikal yang menghasilkan kemasan seni pertunjukan ritual adat.
Tema Festival Bentara Upacara Adat se- Provinsi DIY adalah Tema festival Upacara Adat Tahun 2011 adalah “Penguatan Nilai-nilai Tradisi/Budaya Lokal”. Basis tema adalah seluruh dinamika ritual adat terkait dengan eksistensi Air (Laut ), Bumi (tanah) dan Gunung (api).
Kegiatan Festival Upacara Adat akan dilaksanakan dalam bentuk pawai yang akan diikuti oleh 5 (lima) kelompok Bentara Upacara Adat yang berasal dari desa/kelurahan Kabupaten/Kota se-Provinsi DIY.
Pelaksanaan Kegiatan Festival Upacara Adat dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 17 Juli 2011 dan tealh terlaksana menjadi rangkaian Festival Bentara Upacara Adat mengambil lokasi di Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta tersebut.
Upaya pelestarian berbagai tradisi dan budaya harus senantiasa kita intensifkan. Perubahan pola pikir di bidang ekonomi, politik yang terjadi di masyarakat dewasa ini telah melahirkan perubahan nilai-nilai yang dianut masyarakat.
Hal ini mengakibatkan berkembangnya materialisme dan menonjolkan kedaerahan dan kelompok masing-masing lebih dari pada memikirkan apa yang dibutuhkan bangsa ini.
Oleh karena itu fungsi budaya sebagai pemersatu bangsa sangat dibutuhkan untuk menciptakan sebuah Negara Kesatuan yang utuh, aman dan damai. Upacara Adat merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memiliki peran yang strategis dalam menangkal arus budaya global disamping sebagai salah satu upaya memberikan ruang bagi kreativitas dan potensi pelaku upacara adat dengan harapan kelak mereka mampu tetap eksis dan survive.
Festival Upacara adat yang sudah diselenggarakan ke dua kalinya ini sekaligus juga sangat erat kaitannya dengan upaya pembinaan dan pengembangan kreativitas pada masyarakat pelaku upacara adat. Kreativitas masyarakat dibangun melalui dua jalur. Pertama, melalui dorongan untuk penciptaan-penciptaan baru oleh para seniman, dan kedua, melalui kegiatan apresiasi seni dalam masyarakat, khususnya masyarakat non seniman.
Dalam hubungan ini, pengembangan kreativitas di kalangan seniman dan masyarakat pelaku upacara adat diharapkan akan menjadi pendorong bagi tumbuhnya kemampuan untuk meningkatkan peran aktif mereka sebagai bagian dari bangsa kita.
Budaya lokal atau budaya tradisi merupakan salah satu benteng tangguh menghadapi serbuan budaya global yang berpotensi melenyapkan identitas bangsa. Budaya lokal memiliki kearifan yang berupa nilai, perilaku atau ekspresi dan bentuk-bentuk hasil kebudayaan (karya) yang bersifat material.
Budaya nilai memberikan sistem pengetahuan, budaya perilaku memberi semesta pengalaman riil, dan budaya karya memberikan warisan budaya (heritage) kepada bangsa.
Upacara adat merupakan salah satu produk budaya lokal. Ia memiliki beberapa fungsi mendasar, yakni ritus komunikasi (anusia dengan tuhan), perekat sosial (solidarity maker), pengukuhan atas nilai-nilai tradisi, wahana ekspresi kolektif (publik stakeholders budaya) dan wahana pengembangan nilai-nilai ekonomi (terkait dengan budaya wisata).
Terkait dengan hal diatas, maka festival bentara Upacara adat bisa kita baca sebagai upaya menjaga eksistensi sekaligus meberdayakan upacara adat. Ini terkait dengan dinamika kehidupan negara dan bangsa yang terus melaju memasuki jagad budaya global.
Dalam jagad budaya global, dunia menjelma menjadi “kampung” tanpa sekat, sehingga peleburan identitas bangsa sangat mungkin terjadi. Untuk itu, pemberdayan upacara adatmenjadi salah satu upaya untuk memproteksi identitas dan karakter bangsa. Dengan cara itu, tradisi upacara adat dapat hidup bersanding dengan budaya-budaya asing, tanpa kehilangan martabat kulturalnya.
Transformasi budaya upacara adat menjadi atraksi budaya, sesungguhnya tidak mengubah atau melenyapkn nilai-nilai esensialnya. Upaya itu lebih terfokus pada penghadiran dan pengemasan upacara adat ke tengah publik, dengan cara dan bentuk yang lebih menarikdan komunikatif, sehingga dapat dinikmati, dihayati dan diapresiasi.
Selain itu, festival ini juga berupaya mendorong para pelaku upacara adat di DIY untuk lebih gigih lagi menggali dan mengeksplorasi nilai-nilai tradisi demi menemukan keotentikan yang sesuai dengan latar historis, kultural dan sosial.
Dari sana, kita akan menjumpai berbagai keragaman budaya-bukan penyeragaman-terutama dalam hal bentara atau prajurit pengawal upacara adat “kata para narasumber, Drs, Djoko Dwianto,MH Hum, Indra tranggono, “ketika memberikan ulasan soal festival adat. kepada media ini “Padma W.
