Merti Dusun sebagai salah wujud Syukur


tumpeng raksasa di arak

 Budaya sajian majalahburungpas.com, Sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rejekinya, warga pedukuhan Ngentak Bangunjiwo mengelar kegiatan tahunan berupa merti dusun. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk kirab budaya tersebut diikuti seluruh warga pedukuhan Ngentak mulai dari rukun tetangga (RT) I hingga Rt 12 serta diikuti empat RT dari luar pedukuhan Ngentak.

Kirab budaya yang digelar sejak 2009 tersebut dihadiri wakil bupati Bantul, Sumarno PRS, sekaligus melepas rombongan kirab, didampingi Asekda Mardi Ahmad serta lurah desa Bangunjiwo, Bibit Rustamto. Arak-arakan kirab yang terdiri atas seni tradisional sperti jatilan, tek-tek gung, hadroh, dadung awuk, wayang orang, tari topeng, badut serta gunungan hasil bumi dan drum band dari SLB Bangun Putro, mengelilingi pedukuhan Ngentak sejauh 3 km, dengan start dari depan rumah lurah Bangunjiwo dan finish di halaman masjid Al Yakin.

Sebelum melepas rombongan kirab, wakil Bupati Bantul Sumarno, memberikan apresiasinya terhadap kegiatan merti dusun yang diadakan oleh warga Ngentak. Dengan kegiatan ini juga diharapkan semakin memperkokoh hubungan antar warga serta semakin meningkatkan rasa solidaritas dan kegotong-royongan warga Ngentak khususnya dan pada warga di sekitarnya pada umumnya.

Lurah desa Bangunjiwo, Bibit Rustamto didampingi ketua panitya Merti dusun, Wakijo mengungkapkan merti dusun ini merupakan warisan para pendahulu yang dilakukan secara turun temurun sebagai manifestasi rasa syukur warga. Namun karena adanya beberapa hal, kegiatan ini sempat terhenti dan baru secara rutin diadakan pada 2009 hingga sekarang. Selain mensyukuri rejeki yang melimpah dan ketentraman pedukuhan Ngentak, merti dusun ini juga bertujuan untuk mempererat kerjasama antara satu dengan yang lainnya guna tetap terciptanya rasa kesatuan warga di Pedukuhan Ngentak.

Merti dusun yang dimulai sejak 2 Juni tersebut diawali dengan kegiatan pengajian umum serta pemilihan ketua kring dan ketua takmir masjid. Di hari berikutnya dilanjutkan dengan berbagai kegiatan mulai dari gerak jalan massal dan senam sak isane, tari-tarian, koor ibu-ibu PKK, pementasan ketoprak Surya Kencana, kirab budaya dan diakhiri dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk oleh ki dalang Seno Nugroho dengan lakon Semar Boyong. Diambilnya cerita ini karena Semar merupakan pengejawantahan dewa yang peduli dan menghormati terhadap wong cilik. Dan dalam pementasan wayang inipun dihadiri Gusti Yudo serta Gusti Bimo.

Lebih jauh Bibit mengatakan merti dusun dan kirab budaya hendaknya jangan dinilai dari sisi event budayanya akan tetapi yang terpenting adalah perilaku atau roh budaya dapat mewarnai perilaku masyarakat. Karena sesungguhnya perilaku budaya tersebut telah tersirat dalam kegiatan ini. Oleh karena ia akan terus berkomitmen, meski di 2014 nanti dirinya sudah tidak lagi menjadi lurah Bangunjiwo namun akan tetap nguri-uri kebudayaan yang merupakan warisan para pendahulu bangsa agar tetap lestari. Anjar.

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi