Din Syamsudin “Indonesia Belum Berdaulat Soal Pangan
DIN SYAMSUDIN DI EVENT MEMEDI SAWAH CANDRAN BANTUL JOGJAKARTA
Bantul-majalahburungpas.com, Meski Indonesia di kenal sebagai negara agraris namun soal kebutuhan pangan masih mengantungkan dari impor.
Akibatnya harga kebutuhan pangan cukup tinggi. Lebih dari itu negara yang memiliki lahan cukup luas ini belum berdaulat dalam hal pangan. Hal ini diungkapkan ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dien Syamsudin dalam orasi budayanya dalam pembukaan festival memedi sawah di desa wisata Candran Imogiri.
Ditambahkan Din Syamsudin, sebagian besar kebutuhan makan rakyat Indonesia masih didatangkan dari luar negeri atau impor.
Din mencontohkan, saat ini Indonesia menjadi pemgimpor beras terbesar dunia, yakni sebanyak 3 juta ton/tahun. Dan membutuhkan lain seperti kedelai, Indonesia harus memgimpor sebesar 2,6 juta ton/tahun.
“Selain itu untuk memenuhi kebutuhan daging Sapi Indonesia megimpor daging sapi sebanyak 3,5 ton/tahun. Dengan kata lain 80% daging sapi merupakan daging impor” tuturnya.
Lebih jauh Din Samsyudin menyayangkan kalangan generasi muda yang mana sekarang banyak yang senang mengkonsumsi makanan dari luar negeri. Menurutnya hal ini merupakan tanda adannya kelunturan budaya di kalanagan anak muda. Padahal soal rasa makanan Indonesia tidak kalah enaknya.”Apa sih enaknya kentucky fried chiken itu” tanyanya.
Tidak hanya soal makanan, generasi muda juga kurang menghargai budaya yang lainnya. Sehingga kedalutan Indonesia yang seakan runtuh. Hal ditandai dengan banyaknya budaya Indonesia yang diambil luar negeri.”Kesenian, batik,kuliner dan lainnya telah diklaim milik Malaysia. Sehingga hal ini mengancam kedaulatan kita” tegasnya.
Oleh karenanya Din Samsyudin berharap generasi muda harus menghargai kebudayaan negera sendiri. Generasi muda jangan lagi terkena virus budaya barat yang akan merusak kebudayaan kita. Din Samsyudin juga sangat berharap generasi muda mampu menegakkan kedaulatan bangsa.
Dan terkait kedaulatan pangan tersebut tokoh Muhammmadiyah ini berharap bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang produkif, jangan menjadi menjadi bangsa yang konsumtif, tetapi masyarakat juga perlu diajak menjadi masyarakat yang produktif, untuk itu guna menegakkan kedaulatan pangan harus ada kebijakan negara yang lebih jelas “anjar
