Keris Indonesia di tetapkan Unesco Sebagai Karya Agung Budaya Lisan Wajib Di lestarikan


GUBERNUR DIY MENGAMATI KERIS YANG DI PAMERKAN

Bantul media hobi majalahburungpas.com, tosan aji dalam  berbagai  ragam merupakan hal yang penting  seperti halnya batik  yang  telah mendunia dan kini menjadi andalan bangsa Inonesia.

Sementara keris yang  ditetapkan  oleh UNESCO sebagai  “Karya  Agung  Budaya    Lisan  dan  Tak benda Warisan Manusia,  oleh sebab itu selayaknya    masyarakat  Perkerisan  Indonesia  tidak perlu ragu untuk menetapkan tanggal pengakuan  sebagai Hari Keris Nasional.

Karena  sejak  dikukuhkan  sebagai warisan  mahakarya dunia  non bendawi,  maka ada nilai takar  tehnologi dan estetik dengan demikian Pengakuan tersebut  hendaknya, mendorong Pemerintah  dan masyarakat  terutama pecinta keris  untuk berkiprah untuk lebih melestarikannya.

Sebab dukungan  komunitas, pelestarian,edukasi  menjadi  dasar pertimbangan  UNESCO mengakui sebagai warisan budaya dunia.

Demikian sambutan  Gubernur DIY Hamengku Buwono X,  saat pembukaan  Musyawarah  Senopati  Nusantara (MAS) 2017 yang berlangsung di Pyramid, Jalan Parangtritis, Bantul Yogyakarta Jum'at 24/2/2017).

Hadir  dalam Musyawarah tersebut, Bupati Bantul Dinas  Kebuayaan  dan Pariwisata  DIY,  Umar Priyono serta masyarakat pecintaa  keris  paguyban  tosan aji seluruh Indonnesia, tokoh lembaga adat. Menurutnya,  keris  erat kaitannya  dengan kultur Jawa, karena   menyimpan  berbagai keunggulan teknologi nenek moyang.

Keris dalam wujud awalnya  paling sederhana berupa  wesi – buda” sudah dikenal sejak tahun 700 an M saat  Mataram Kuno.

Dalam  dunia  perkerisan, dikenal konvensi bapa- tapa,anak  nampa, putu kelu, buyut katut, canggah-kesrambah.

 Manusia  Jawa merumuskan  sebuah doa  yang diwujudkan  dalam sebentuk  keris. Doa diwujudkan  alam  laku melalui  tapa, mati raga, tapa bisu dan sebagainya .

Laku prihatin,  dari seorang empu pemesan keris  tidak hanya  dua hari, bahkan sampai  enam bulan. Tidak mengherankan  jika keris  yang diciptakan  hebat.

I  Akan mampukah keris menebar ganda  arum - matarum, yang dilambari  ulat manis, kang  mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembah  laku utama.Terkadang banyak  disalah pahamkan, oleh para pecinta keris.

Keris  diminyaki dengan wewangian,  padahal tanpa  sikap ganda  arum-metarum, keris setangguh apapun  tidak akan memiliki arti apa-apa  bagi  pemiliknya,” tandas  Sultan.

Sementara itu, MM Hidayat selaku Ketua   Formatur dalam laporannya, menyatakan Musyawarah Agung Senopati Nusantara mengambil tema

Kaum Muda  Kebangkitan Tosan aji Nusantara Bergerak  dan  Bekerja  demi Lestarinya  Tosan Aji  Nusantara.

Hidayat, berharap dengan adanya musyawarah dan pameran tosan aji secara nasional, dan menjadi jembatan  penghubung kerja sama  sinergis pemerintah dalam  pelestarian  tosan aji.

Dalam pameran tersebut memang terdapat peningkatan jumlah  paguyuban  pecinta keris, penikmat dan  kolektor  bertambah, demikian juga  pelaku  tosan aji  juga tumbuh pesat.

Dari pertumbuhan, tercatat 221 perajin  perabot  keris, beberapa empu di Surakarta, terdapat  puluhan.

Selain itu, masih terdapat  ribuan kolektor, penikmat  tosan aji, dan ukiran yang tersebar di  3 kecamatan, Bali, Sulawesi, Lombok, Sumatera empu, pengrajin  pendok serta warangka. Di Sumenep, Madura ada  648 empu, pande pengrajin. san/njar/ym

Sharing Berita

Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi